Analisis Kebijakan

Strategi Indonesia dalam Forum EAS 2025: Mendorong ASEAN Outlook on Indo-Pacific di Tengah Meningkatnya Kompetisi Kekuatan Besar

06 Agustus 2026 Asia Timur, ASEAN 8 views

Sebagai ketua ASEAN 2025, Indonesia memanfaatkan KTT Asia Timur (EAS) untuk memperkuat ASEAN Outlook on Indo-Pacific (AOIP) sebagai strategi hedging aktif guna menjaga sentralitas ASEAN dan mencegah polarisasi kekuatan besar. Posisi sebagai 'pendamai dan penyeimbang' menguat, namun diuji oleh kecenderungan kekuatan besar mendorong agenda eksklusif mereka. Keberhasilan jangka panjang bergantung pada kemampuan Indonesia memimpin ASEAN dalam mengimplementasikan kerja sama konkret yang mengubah AOIP dari pandangan menjadi hasil nyata bagi stabilitas kawasan.

Strategi Indonesia dalam Forum EAS 2025: Mendorong ASEAN Outlook on Indo-Pacific di Tengah Meningkatnya Kompetisi Kekuatan Besar

Indonesia memasuki tahun 2025 dengan peran strategis ganda: sebagai ketua ASEAN dan tuan rumah KTT Asia Timur (East Asia Summit/EAS) ke-20. Posisi ini tidak hanya simbolis, tetapi merupakan landasan operasional untuk memajukan ASEAN Outlook on Indo-Pacific (AOIP) sebagai kerangka tata kelola kawasan yang inklusif. Dalam konteks kompetisi strategis AS-Tiongkok yang semakin mendalam, AOIP menjadi instrumen utama Indonesia untuk menegaskan sentralitas ASEAN dan mencegah terbentuknya blok-blok eksklusif yang dapat memecah belah regionalisme di Asia Tenggara dan Indo-Pasifik.

AOIP sebagai Dasar Diplomasi dan Konten Strategis

Penekanan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada kemitraan yang inklusif, transparan, dan berbasis aturan dalam EAS bukanlah retorika kosong. Ini merupakan strategi hedging aktif Indonesia. Dengan menjadikan AOIP sebagai acuan utama, Indonesia secara efektif menolak narasi bipolar dan menawarkan platform alternatif yang memungkinkan keterlibatan semua kekuatan besar—AS, Tiongkok, Jepang, India, Rusia, dan lainnya—tanpa memaksa negara-negara ASEAN untuk memilih pihak. Fokus pada kerja sama konkret di bidang maritim, ekonomi, dan konektivitas merupakan upaya mengalihkan energi kompetisi menjadi kolaborasi fungsional, yang pada gilirannya memperkuat kapasitas dan relevansi ASEAN.

Implikasi strategis dari pendekatan ini sangat signifikan. Posisi Indonesia sebagai 'pendamai sekaligus penyeimbang' (honest broker and stabilizer) semakin mengkristal. Kebijakan ini secara langsung bertujuan melindungi kepentingan nasional Indonesia dan ASEAN dari dampak destabilisasi polarisasi global. Dalam perspektif pertahanan dan keamanan, lingkungan kawasan yang stabil dan terprediksi, yang diatur oleh norma dan aturan bersama, jauh lebih menguntungkan daripada lingkungan yang terfragmentasi oleh aliansi eksklusif yang dapat memicu eskalasi ketegangan dan persaingan militer.

Tantangan Implementasi dan Ujian Kepemimpinan Indonesia

Namun, doktrin yang elegan di atas kertas menghadapi ujian realitas geopolitik yang keras. Tantangan utama berasal dari kecenderungan kekuatan besar, terutama AS dan Tiongkok, untuk mendorong agenda dan mekanisme kerjasama mereka sendiri yang seringkali bersifat eksklusif dan bersaing. Inisiatif seperti Quad (AS, Jepang, India, Australia) atau AUKUS, meskipun tidak secara langsung menentang AOIP, menciptakan arsitektur keamanan paralel yang dapat mengikis sentralitas ASEAN jika tidak dikelola dengan hati-hati. Kemampuan Indonesia untuk mempersuasi dan mengarahkan kekuatan-kekuatan ini agar menyalurkan kapabilitas mereka melalui saluran yang dikelola ASEAN merupakan ukuran nyata kepemimpinan strategis.

Ke depan, kesuksesan AOIP tidak akan diukur dari banyaknya pernyataan bersama, tetapi dari kemampuan ASEAN yang dipimpin Indonesia untuk memfasilitasi dan mengarahkan kerja sama konkret. Ini memerlukan kapasitas diplomatik, administratif, dan teknis yang kuat dari Sekretariat ASEAN dan negara-negara anggotanya. Proyek-proyek di bawah pilar AOIP—seperti kerja sama maritim untuk mencegah insiden di laut, atau inisiatif konektivitas yang inklusif—harus memberikan manfaat nyata bagi semua pihak. Hanya dengan demikian AOIP dapat bertransformasi dari outlook (pandangan) menjadi outcome (hasil), yang secara organik memperkuat posisinya sebagai kerangka acuan utama di kawasan Indo-Pacific.

Refleksi strategis terakhir adalah mengenai sustainability. Kepemimpinan Indonesia di EAS 2025 adalah momen krusial, tetapi AOIP harus menjadi kebijakan yang bertahan melampaui masa kepemimpinan satu negara. Ini memerlukan institusionalisasi yang kuat dan komitmen kolektif ASEAN. Jika berhasil, Indonesia tidak hanya akan tercatat sebagai penjaga stabilitas kawasan, tetapi juga sebagai arsitek yang membentuk tatanan regional yang lebih terbuka, kooperatif, dan mandiri—sebuah kontribusi strategis tertinggi bagi keamanan nasional dan kedaulatan Indonesia dalam jangka panjang.

Entitas yang disebut

Orang: Retno Marsudi

Organisasi: ASEAN

Lokasi: Indonesia, ASEAN